ndezzndezz

LAPORAN VIT C

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Mineral adalah bahan anorganik, bahan kimia yang didapat makhluk dari alam, yang asalnya ialah dari tanah. Mineral ada yang larut dalam air lalu masuk tubuh lewat air minum atau air yang dipakai untuk mencuci sayur dan memasak. Mineral masuk ke dalam tubuh dalam bentuk garam lalu digunakan dalam bentuk elektrolit. Elektrolit adalah bentuk ion dari mineral yang bermuatan positif (+) dan negatif (-). Ada sebagian mineral yang dipakai sel sebagai poros atau inti suatu molekul, ada pula yang dipakai untuk menghubungkan suatu cabang ke cabang yang lain (Siswono 2001).
Mineral yang masuk kedalam tubuh lewat makanan sebagian diabsorpsi oleh dinding usus. Makanan yang masuk kedalam tubuh terdiri dari bahan organik dan air sebesar 96 % dan sisanya terdiri dari unsur mineral. Mineral dikenal sebagai zat anorganik atau kadar abu. Dalam proses pembakaran, bahan-bahan organik terbakar, tetapi zat anorganik tidak terbakar, karena itu bahan anorganik disebut abu (Winarno 1992).
Berdasarkan kebutuhan dalam tubuh mineral dapat digolongkan menjadi dua kelompok utama yaitu mineral makro dan mineral mikro. Mineral makro adalah mineral yang menyusun hampir 1% dari total berat badan manusia dan dibutuhkan dengan jumlah lebih dari 1000 mg/hari, sedangkan mineral mikro (trace) merupakan mineral yang dibutuhkan dengan jumlah kurang dari 100 mg /hari dan menyusun lebih kurang dari 0.01% dari total berat badan. Mineral yang termasuk kategori mineral makro utama adalah kalsium (Ca), fosfor (P), magnesium (Mg), sulfur (S), kalium (K), klorida (Cl), dan natrium (Na). Sedangkan mineral mikro terdiri dari kromium (Cr), tembaga (Cu), fluoride (F), yodium (I) , besi (Fe), mangan (Mn), silisium (Si) and seng (Zn) (Anonim 2007).
Sifat spesifik mineral di antaranya: tidak ada perubahan komposisi kimia sejak dikonsumsi sampai dibuang dari tubuh; tidak ada satu mineral pun dapat berubah karena pengaruh pemanasan, udara, dan asam, misalnya makanan yang dibakar sampai habis; dan mineral hanya dapat hilang dari makanan karena larut dalam air selama proses pengolahannya. Mineral terdapat dalam makanan maupun dalam tubuh terutama dalam bentuk ion yang dapat bermuatan positif atau negatif. Selain itu juga dapat merupakan bagian dari senyawa organik yang berperan dalam metabolisme tubuh.
Mineral turut serta dalam berbagai proses biokimia penting dalam tubuh. Fungsi mineral secara umum antara lain: Komponen penting senyawa dalam tubuh seperti kalsium dan fosfor sebagai penyusun struktur tulang dan gigi. Kofaktor dalam reaksi biologis. Mineral akan berikatan dengan enzim tertentu dan mengaktifkan enzim yang bersangkutan, sehingga berbagai reaksi biologis dalam tubuh dapat terus berlangsung. Selain itu, mineral berikatan dengan komponen protein dan mempengaruhi aktivitas protein yang bersangkutan.
Masyarakat secara umum telah mengenal peran zat besi yang termasuk dalam mineral tubuh dan bagian dari hemoglobin pada sel darah merah. Peran tersebut antara lain sebagai fasilitator penyerapan dan transport zat gizi serta menjaga kesimbangan asam basa tubuh. Sebagian besar reaksi kimia di tubuh dapat berlangsung bila keasaman cairan tubuh sedikit di atas netral. Keasaman cairan tubuh sangat ditentukan oleh konsentrasi relatif dari ion hidrogen dan ion hidroksida. Beberapa mineral memiliki tendensi untuk berikatan dengan ion-ion tersebut, menjaga keseimbangan cairan tubuh, serta sebagai penghantar impuls saraf. Regulasi kontraksi pada otot dipengaruhi oleh mineral yang terdapat pada sel-sel otot.

BAB II
TUJUAN PRAKTIKUM

A. Tujuan Umum
Mengamati peran mineral melalui keberadaannya dalam tubuh.

B. Tujuan Khusus
Mahasiswa dapat mengamati serta memahami tujuan dari praktikum :
1. Pengujian Filtrat
2. Pengujian Endapan

BAB III
BAHAN DAN ALAT PRAKTIKUM

A. Bahan dan Pereaksi
Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu, tepung tulang, NH4OH, HCl 10%, asam asetat 10%, pereaksi molibdat khusus, HNO3 10%, AgNO3 2%, BaCl2, amonium oksalat 1%, pereaksi ferosulfat khusus.

B. Alat-alat
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu, Erlenmeyer, tabung reaksi, gelas piala, corong, kertas saring kertas lakmus.

BAB IV
PROSEDUR PERCOBAAN

A. Pembuatan Abu Tulang
Percobaan pembuatan abu tulang seharusnya dilakukan dengan cara memanaskan 3–5 gram tepung tulang hingga menjadi abu kemudian dinginkan dan gerus halus pada mortar. Panaskan kembali abu tulang hingga berwarna putih, dinginkan, lalu tambahkan 50 mL HNO3 10% aduk hingga homogen. Pemanasan ini membutuhkan waktu yang lama sehingga dalam praktikum larutan abu tulang telah langsung disediakan dalam bentuk seperti larutan. Praktikum dilanjutkan dengan melakukan pemanasan hingga abu tulang larut dan aquades ditambahkan sebanyak isi yang sama. Penyaringan kemudian dilanjutkan dengan menambahkan NH4OH pekat hingga bereaksi basa (gunakan kertas lakmus). Endapan putih menunjukkan adanya fosfat. Filtrat dan endapan dipisahkan melalui penyaringan.

B. Pengujian Filtrat
1. Uji Klorida
• Sebagian filtrat diasamkan dengan larutan HNO3 10% sebanyak 1ml.
• Ditambahkan 1ml larutan AgNO3 2% .
• Terbentuknya endapan putih menunjukkan adanya klor.
2. Uji Sulfat
• Sebagian filtrat diasamkan dengan 1ml HCl 10%,
• ditambahkan 1ml larutan BaCl2.
• Terbentuknya endapan putih menunjukkan adanya sulfat.

C. Pengujian Endapan
• Ditambahkan 5ml asam asetat 10% pada endapan yang terdapat di kertas saring.
• Tempatkan filtrat hasil pencucian endapan di dalam gelas piala dan sesuaikan jumlahnya untuk pengujian.
1. Uji Kalsium
• Dimasukkan 2 ml filtrat ke dalam tabung reaksi
• Ditambahkan 1 ml amonium okasalat 10%
• Endapan putih yang terbentuk menunjukkan adanya kalsium.
2. Uji Fosfat
• Dimasukkan 1 ml filtrat ke dalam tabung reaksi
• Ditambahkan 1 ml larutan urea 10% dan pereaksi molibdat khusus
• Dicampurkan dengan rata
• Kemudian ditambahkan 1 ml larutan ferosulfat khusus.
• Terbentuknya warna biru pada larutan menunjukkan adanya fosfat.

BAB V
HASIL DAN TABEL PENGAMATAN
Tabel 1 Uji Filtrat
No Bahan Uji Warna
Larutan Hasil
Pengamatan Gambar
1 Uji klorida Terdapat endapan putih +
2 Uji sulfat Terdapat endapan putih +

Keterangan : (+) uji positif
(- ) uji negatif

Tabel 2 Uji Endapan
No Bahan Uji Warna
Larutan Hasil
Pengamatan Gambar
1 Uji Kalsium Terdapat endapan putih +
2 Uji Fosfat Terdapat endaapan biru +

Keterangan : (+) uji positif
(- ) uji negatif

BAB VI
PEMBAHASAN

Praktikum ini membahas tentang mineral. Pengujian mineral yang terkandung dalam objek uji dalam praktikum ini adalah tepung tulang yang meliputi uji klorida, sulfat, kalsium, dan fosfat,. Pengujian masing-masing mineral yang dikandung tepung tulang diproses melalui tiga tahapan yakni pembuatan abu tulang, pengujian filtrat tulang, dan pengujian endapan tulang.
Mineral adalah zat anorganik atau kadar abu yang sangat dibutuhkan makhluk hidup selain karbohidrat, lemak dan protein. Jika bahan biologis dikremasi (dibakar), maka sebagian dari berat tubuhnya akan menjadi berkurang akibat penguapan beberapa zat yang terkandung di dalamnya seperti karbon yang menguap menjadi CO2, nitrogen yang menguap menjadi uap N2 , dan hidrogen yang menguap menjadi uap air. Sebagai contoh adalah tubuh manusia yang meninggal apabila dikremasi sehingga menjadi abu, maka beratnya akan menjadi 3 kg dari beratnya 80 kg. Sebagian besar abu berasal dari rangka tubuh (hampir 96%), sedangkan sisanya berasal dari bagian-bagian tubuh yang lain (Campbell 2002).
Berdasarkan kebutuhan dalam tubuh mineral dapat digolongkan menjadi dua kelompok utama yaitu mineral makro dan mineral mikro. Mineral makro adalah mineral yang menyusun hampir 1% dari total berat badan manusia dan dibutuhkan dengan jumlah lebih dari 1000 mg/hari, sedangkan mineral mikro (trace) merupakan mineral yang dibutuhkan dengan jumlah kurang dari 100 mg /hari dan menyusun lebih kurang dari 0.01% dari total berat badan. Mineral yang termasuk kategori mineral makro utama adalah kalsium (Ca), fosfor (P), magnesium (Mg), sulfur (S), kalium (K), klorida (Cl), dan natrium (Na). Sedangkan mineral mikro terdiri dari kromium (Cr), tembaga (Cu), fluoride (F), yodium (I) , besi (Fe), mangan (Mn), silisium (Si) and seng (Zn) (Anonim 2007).
Praktikum mineral menguji adanya kandungan mineral di dalam tulang. Komposisi mineral yang terkandung dalam tulang diidentifikasi dengan metode pengabuan. Pengabuan dilakukan dengan cara pembakaran zat yang akan diuji. Prinsip pengabuan yaitu memisahkan senyawa anorganik (termasuk mineral), senyawa organik (seperti C, N, O, dan H), dan memisahkan air. Pembakaran menghancurkan senyawa organik dalam bentuk gas yang mudah terbang bebas ke udara dan akan menyisakan senyawa anorganik yaitu mineral yang terkandung dalam tulang. Mineral yang tertinggal berbentuk abu dan dapat diidentifikasi dengan senyawa khusus yang dapat digunakan sebagai indikator mineral tersebut. Pemanasan tulang menyebabkan bahan organik dan air menguap dan menyisakan bahan anorganik berupa mineral yang berbentuk garam-garam. Mineral yang telah larut dalam filtrat tulang dipisahkan oleh senyawa asam yaitu HNO3 dan diikat oleh pereaksi yang dapat mengikat mineral yang terlarut dalam filtrat tulang. Praktikum mineral tidak melakukan pembuatan abu tulang karena telah langsung disediakan di laboratorium Biokimia IPB. Pembuatan abu tulang hanya dilakukan dengan mencampurkan larutan abu tulang dengan NH4OH. Melalui metode pengabuan ini diperoleh reaksi positif yakni terbentuknya endapan putih pada larutan abu tulang yang menandakan adanya fosfat.
Uji klorida dilakukan untuk menunjukkan kandungan klor yang terkandung di dalam tulang. Pengujian dilakukan dengan menggunakan filtrat yang telah dibasakan oleh NH4OH. Filtrat tersebut diasamkan oleh asam HNO3 10% bertujuan untuk memisahkan mineral dari filtrat sehingga mineral mudah diikat oleh senyawa reaktif lain yang dapat bereaksi dengan mineral membentuk suatu endapan putih dalam larutan. Senyawa AgNO3 merupakan garam yang dapat bereaksi dengan klorida sehingga hasil pengujian klorida membentuk warna keruh bersama AgNO3 menjadi senyawa AgCl dengan reaksi sebagai berikut :
Cl- + AgNO3 = AgCl + NO3 (endapan putih)
Uji sulfat dilakukan untuk menunjukkan kandungan sulfat yang terkandung dalam tulang. Pengujian dilakukan dengan menggunakan filtrat yang telah dibasakan seperti yang telah dilakukan dalam uji klorida. Filtrat tersebut diasamkan oleh asam HCL 10% bertujuan untuk memisahkan mineral dari filtrat sehingga mineral mudah diikat oleh senyawa reaktif lain yang dapat bereaksi dengan mineral membentuk suatu endapan putih dalam larutan. Senyawa BaCL2 merupakan garam yang dapat bereaksi dengan sulfat sehingga hasil pengujian sulfat membentuk endapan putih berupa senyawa BaSO4. Persamaan reaksi dari uji sulfat secara teoritis adalah :
SO42- + BaCl2 = BaSO4 + 2Cl- (endapan putih)
Uji kalsium dilakukan untuk menunjukkan kandungan kalsium yang terkandung di dalam tulang. Pengujian dilakukan dengan menggunakan endapan tulang yang telah diasamkan dengan larutan CH3COOH. Hal ini juga dilakukan untuk uji mineral lain yang dilakukan melalui endapan yakni fosfat, magnesium, dan besi. Kalsium dapat diketahui dengan menambahkan amonium oksalat (NH4COOH) 1% ke dalam larutan sehingga menghasilkan endapan putih.hasil pengujian praktikum kalsium dalam praktikum ini menghasilkan endapan putih yang menunjukkan keberadaan kalsium di dalam kalsium di dalam tulang. Persamaan reaksi untuk uji kalsium secara teoritis adalah:
Ca + NH4COOH = CaCOOH (endapan putih)
Uji fosfat dilakukan menunjukkan kandungan fosfat yang dilihat dari endapan tulang yang telah diasamkan sebelumnya. Larutan ditambahkan larutan urea (CO(NH2)2) 1% dan pereaksi molibdat khusus yang bertujuan untuk memisahkan mineral agar dapat bereaksi dengan larutan ferosulfat khusus membentuk persenyawaan berwarna biru karena senyawa ferosulfat reaktif dengan fosfat dan membentuk senyawa berwarna.

BAB VII
KESIMPULAN

Pengujian filtrat untuk uji klorida didapatkan warna keruh yang menunjukkan adanya klor. Uji sulfat didapatkan hasil positif yaitu terdapat endapan. Hal ini menunjukkan adanya kandungan sulfat dalam tulang. Uji kalsium didapatkan hasil yang positif yaitu terdapat endapan putih. Uji fosfat juga menunjukan hasil yang positif yaitu muncul warna hijau kebiru-biruan.

DAFTAR PUSTAKA

Bintang, M.Sc., Maria. 2010. Biokimia: Teknik Penelitian. Jakarta: Erlangga.
Safitri, Ssi.Msi., Mega. 2011. Penuntun Praktikum Biokimia. Bogor: IPB.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


  • ndezzndezz: Sama2, senang jika bsa bermanfaat :)
  • ekaayunda: eem ada gak perjalanan obat dalam bentuk sediaan tablet, kaplet sirup dll?
  • Mega: Pertamax gan.. Xixixi
%d blogger menyukai ini: